- Turizalhusein
Santri IRo Society Asal Tangerang
_____________
Tempe, orang Indonesia menyebutnya, merupakan salah satu makanan olahan yang terbuat dari kacang kedelai. Makanan satu ini banyak sekali digemari dari berbagai macam kalangan masyarakat Indonesia bahkan sampai manca negara. Berbeda dengan makanan lainnya, terutama makanan ala anak mellenia, olahan kacang kedele ini sangat disukai semua level usia, mulai anak-anak, remaja sampai orang tua.Bahkan salah satu youtuber asal Korea “Noona Rosa” dalam setiap kontennya selalu menanyakan kepada penjual warung yang dikunjunginya, “ada tempe Ibu, ada tempe bapak ?”.
Dari dahulu tempe sudah menjadi makanan khas Indonesia, sehingga tidaklah berlebihan jika hal inilah menjadikan tempe menjadi salah satu makanan favorit. Menu sarapan pagi, makan siang bahkan makan malampun, tempe selalu ada menemani masyarakat kita. Mengapa demikian ?, mungkin saja harganya yang murah dan terjangkau, atau juga memang citra rasanya cocok untuk lidah semua kalangan dan tentu sehat untuk di konsumsi. Selain sebagai lauk pauk untuk makan, sekarang tempe juga dikembangkan menjadi makanan ringan. Benar apa yang dikatakan para ahli gizi ,” makanan sehat itu tidak selalu identik dengan mahal dan mewah”.
Menurut para peneliti, Indonesia saat ini merupakan negara produsen tempe terbesar di dunia dan menjadi pasar kedelai terbesar di Asia. Sebanyak 50% dari konsumsi kedelai di Indonesia dipergunakan untuk produksi tempe, 40 % untuk produksi tahu dan 10% dalam untuk produk lain (seperti tauco dan kecap). Para ahli mengatakan konsumsi tempe rata-rata per orang per tahun di Indonesia diperkirakan sekitar 6,45 kg .
Karena begitu banyaknya penggemar tempe dari berbagai kalangan, membuat beberapa orang ingin menggeluti bisnis makanan tradisonal satu ini yang sudah dikenal sejak dulu, khususnya masyarakat Suku Jawa menjadi bisnis yang menjanjikan. Bahkan bisnis tempe ini sudah menjelajah sampai ke Negeri Jepang. Produsen Kazoku Halal Mart Gifu dan Resto, Pabrik Tempe di Jepang yang beralamat di Gifu Ken contohnya , dan pabrik tempe ini ownernya adalah warga Indonesia yang sudah lama bertinggal di negeri Sakura ini.
Produksi tempe di Indonesia sebagian besar masih dilakukan dengan cara tradisional dan rumahan. Kenapa demikian ? Karena mereka para pelaku usaha tempe berasal dari kalangan Industri Rumah Tangga yang masih menggunakan peralatan dan proses produksi yang masih sederhana. Proses pencucian kacang kedele, proses merebus dan permentasi masih menggunakan cara manual. Durasi waktunya juga memakan waktu 3 sampai 4 hari, itupun jika semua prosesnya dilakukan dengan benar. Dikarenakan proses produksi masih secara tradisional maka mereka yang masih secara tradisional dalam proses produksi, akan sulit bersaing dengan industri yang lebih besar dan modern. Produsen seperti ini pada umumnya telah menerapkan cara produksi yang baik dan benar serta menerapkan system hygiene dan sanitasi yang benar untuk menghasilkan prosuk yang berkualitas.
Adalah Nurokhim . Satu diantara puluhan penjual tempe tradisional di kawasan Pasar Anyar Kota Tangerang yang menggeluti usaha tempe. Pria berusia 57 tahun ini sudah menggeluti usaha tempe sekitar 20 tahun lebih. Ia menceritakan sekitar tahun 1998 mencoba peruntungan di Ibu Kota Jakarta. Awal pekerjaan yang dikakukan pria asal Boyoteluk sebuah Desa di Kecamatan Siwalan Pekalongan Jawa Tengah ini menjadi supir angkot di Kawasan Kelapa Gading Jakarta Utara.
Profesi menjadi supir angkot yang dijalani Nurokhim tidak begitu lama, sekitar satu tahun berjalan pria yang beristrikan Suarni gadis yang masih tetangga dekatnya, mencoba usaha baru yaitu berjualan tempe. Walaupun produksi Nurokhim masih menggunakan cara yang tradisional, namun ternyata usaha tempe yang digeluti Nurokhim inilah yang bertahan dan mampu menghidupi kedua orang anaknya. Saat ini Nurokhim sudah memiliki empat orang cucu. Nurokhim adalah contoh sosok ayah sekaligus kakek yang memiliki mimpi membagi kebahagiaan bagi orang-orang terdekatnya.
“Pembuatan tempe dengan cara tradisional memang terlihat terlihat mudah dan cukup sederhana. Akan tetapi tentu memiliki risiko kegagalan yang besar dibandingkan dengan proses yang sudah modern, jika tidak dilakukan oleh orang yang berpengalaman”. Ungkap Nurokhim pada suatu kesempatan.
Lebih lanjut Nurokhim menceritakan, “ Jika dalam produksi mengalami kegagalan, maka jamur yang ada pada tempe tidah tumbuh secara merata, dan berwarna kehitam-hitaman. Jika demikian maka tempe yang diproduksi tidak dapat dijual di pasaran”.
Untuk meminimalisir kegagalan dalam proses produksi tempe, khususnya yang masih menggunakan cara tradisional, perlu adanya sosialisasi cara berproduksi yang baik dan benar kepada pengusaha tempe , pelatihan kepada mereka dapat berupa cara pelabelan, sanitasi, cara penyimpanan, dan juga cara pemasaran. Ini dilakukan dalam bentuk pendampingan, pelatihan dan branding agar tempe menjadi lebih baik. Di beberapa kampus agenda seperti ini sudah dilakukan dalam betuk Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ataupun dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang dilaksanakan satu kali dalam satu tahun.
Benar adanya apa yang dikatakan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M Nuh, “Peran terbaik kampus adalah sebagai pemicu tranformasi, yakni penggerak perubahan. Maka, perguruan tinggi harus bergerak dinamis. Pengajarannya harus berubah, jangan itu-itu saja. Risetnya harus berkembang, jangan itu-itu saja.” “Sebagai enabler, contohnya kampus atau perguruan tinggi harus mampu menjadi pendobrak ketidakmungkinan melalui kreativitas dan inovasi,”. lanjut M. Nuh yang juga mantan Rektor Insitut Teknologi Surabaya (ITS) ini.
“Jika manusia lain belum mampu memberikan hak kita, itu artinya tuhan sang maha pemberi sedang menyiapkan balasan terindah bagi manusia yang mau berusaha dan bekerja”.
____________
Senin, 03 Juni 2024




Syifa
Sukses terus pak, semangat 🙏🏻
Bobby Rafie Saputra
Sangat bermanfaat pak, saya jadi bertambah wawasan, semangat terus pak🙏
admin
ok sudah
admin
mantap Pak Dosen
Moh.Helman Sueb
Peran ksmpus sebagai penggerak.Jitu